Kesehatan Mental Aktivis Hewan: Merawat Pembela Kehidupan di Tengah Sistem yang Abai
Setiap tahun, Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) mengingatkan kita bahwa kesehatan mental adalah hak semua orang. Namun, ada kelompok yang sering terabaikan dalam percakapan ini: aktivis dan penyelamat hewan. Mereka yang setiap hari berhadapan dengan kekerasan, penelantaran, dan ketidakadilan terhadap hewan kerap diminta untuk terus “kuat”, tanpa pernah dipertanyakan apakah sistem sosial dan hukum yang ada justru menjadi sumber luka yang terus berulang.
Kesehatan mental para aktivis hewan bukan sekadar isu personal. Ia adalah persoalan struktural. Aktivis dan rescuer hidup di tengah sistem yang menormalisasi penderitaan hewan, meminimalkan kejahatan terhadap satwa, dan sering kali mengkriminalisasi atau menyalahkan mereka yang bersuara. Tekanan emosional, kelelahan kronis (burnout), trauma sekunder, hingga rasa putus asa bukanlah tanda kegagalan individu, melainkan konsekuensi logis dari kerja advokasi yang dilakukan tanpa perlindungan memadai.
Dalam budaya yang sering memuja ketahanan tanpa batas, aktivis hewan dipaksa untuk terus bergerak, menyelamatkan, melapor, dan mengedukasi—bahkan ketika tubuh dan batin mereka meminta jeda. Narasi “aktivis harus kuat” menjadi berbahaya ketika digunakan untuk membungkam rasa lelah, marah, dan sedih. Padahal, emosi-emosi tersebut adalah bukti bahwa hati nurani manusia masih bekerja, bahwa empati belum mati di tengah dunia yang kerap menutup mata terhadap penderitaan makhluk hidup lain.
Merawat kesehatan mental aktivis hewan berarti mengakui bahwa perjuangan melawan kekerasan terhadap hewan adalah perjuangan jangka panjang yang membutuhkan keberlanjutan, bukan pengorbanan diri tanpa batas. Ruang aman untuk berbagi, akses pada dukungan psikologis, solidaritas komunitas, serta sistem hukum yang berpihak pada keadilan lintas spesies adalah bagian penting dari pemulihan kolektif.
Animal Lawyer Indonesia berdiri bersama para pembela hewan yang selama ini bekerja di garis depan—baik di lapangan, ruang hukum, maupun ruang edukasi publik. Kami percaya bahwa memperjuangkan hak dan perlindungan hukum bagi hewan tidak bisa dipisahkan dari upaya melindungi kesehatan mental manusia yang membela mereka. Keadilan bagi hewan dan kesejahteraan mental para aktivis adalah dua hal yang saling terhubung.
Di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 ini, mari kita hentikan tuntutan agar aktivis selalu “kuat” sendirian. Sebaliknya, mari dorong perubahan sistemik yang lebih adil, manusiawi, dan berempati. Karena menjaga kesehatan mental para pembela hewan berarti menjaga nyala empati, keberanian, dan harapan—agar perjuangan melawan kekerasan yang dilembagakan terhadap hewan dapat terus berlanjut dengan cara yang berkelanjutan dan berpihak pada kehidupan.


Comments
Post a Comment