World Pangolin Day: Trenggiling Sunda di Ambang Kepunahan

 


Setiap tahun, dunia memperingati World Pangolin Day sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap nasib trenggiling — mamalia yang ironisnya menjadi satwa paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Di Indonesia, hewan unik ini dikenal sebagai trenggiling, dengan spesies yang hidup di wilayah kita yaitu Manis javanica atau Trenggiling Sunda.

Meski jarang terlihat, trenggiling memainkan peran penting dalam ekosistem. Namun, keberadaan mereka kini berada dalam ancaman serius. Berdasarkan status konservasi global, Trenggiling Sunda berstatus Critically Endangered (Kritis), yang berarti spesies ini berada di ambang kepunahan jika tekanan perburuan dan perdagangan ilegal terus berlangsung.

Diburu Bukan Karena Ancaman, Tapi Permintaan

Ancaman terbesar bagi trenggiling bukanlah predator alami, melainkan aktivitas manusia. Trenggiling diburu secara masif untuk diambil sisiknya, yang diperdagangkan di pasar gelap. Sisik trenggiling kerap dikaitkan dengan berbagai klaim khasiat medis, meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut. Mitos dan permintaan pasar ilegal menjadi pendorong utama eksploitasi ini.

Perdagangan trenggiling bukan sekadar isu perlindungan satwa. Aktivitas ilegal ini berkaitan erat dengan kejahatan terorganisir, merusak keseimbangan alam, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis. Artinya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi juga manusia dan lingkungan secara luas.

Peran Ekologis yang Sering Diabaikan

Sebagai pemakan semut dan rayap, trenggiling berfungsi sebagai pengendali alami populasi serangga. Kehilangan mereka dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem, termasuk peningkatan populasi hama yang berpotensi merusak lingkungan dan aktivitas manusia. Dengan kata lain, perlindungan trenggiling juga berarti menjaga stabilitas alam.

Kepunahan Bukan Tragedi Alam Semata

Sering kali kepunahan dianggap sebagai proses alami. Namun dalam banyak kasus, termasuk pada trenggiling, kepunahan adalah hasil dari keputusan dan perilaku manusia. Perburuan, perdagangan ilegal, dan kurangnya kesadaran publik mempercepat hilangnya spesies yang seharusnya dilindungi.

Diam terhadap isu ini bukanlah sikap netral. Kurangnya kepedulian justru memperpanjang siklus eksploitasi. Oleh karena itu, edukasi publik dan perubahan perilaku menjadi faktor kunci dalam upaya perlindungan satwa liar.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Perlindungan trenggiling membutuhkan keterlibatan bersama. Langkah sederhana namun berdampak besar meliputi:

  • Tidak membeli atau menggunakan produk dari satwa liar

  • Menolak segala bentuk eksploitasi satwa dilindungi

  • Mengedukasi lingkungan sekitar tentang pentingnya konservasi

  • Melaporkan aktivitas perdagangan satwa ilegal

World Pangolin Day bukan hanya peringatan simbolis, tetapi ajakan untuk bertindak nyata. Trenggiling tidak memiliki suara untuk mempertahankan diri. Manusialah yang memegang kendali untuk menentukan apakah spesies ini akan bertahan atau menghilang.

Menjaga trenggiling berarti menjaga keseimbangan alam. Dan menjaga alam berarti menjaga masa depan kita sendiri.

Comments

Popular Posts